Teman-teman aku punya cerita romantisss nih...
pokoknya ceritanya itu so sweeettt bgt heheheh :P
langsung aja yuk ke cerita....
1001 BURUNG KERTAS
Reo dan July
adalah sepasang kekasih yang serasi walaupun keduanya berasal dari keluarga
yang jauh berbeda latar belakangnya. Keluarga July berasal dari keluarga kaya
raya dan serba berkecukupan, sedangkan keluarga Reo hanyalah keluarga seorang
petani miskin yang menggantungkan kehidupannya pada tanah sewaan.
Dalam
kehidupan mereka berdua, Reo sangat mencintai July. Reo telah melipat 1000 buah
burung kertas untuk July dan July kemudian menggantungkan burung-burung kertas
tersebut pada kamarnya. Dalam tiap burung kertas tersebut Reo telah menuliskan
harapannya kepada July. Banyak sekali harapan yang telah Reo ungkapkan kepada
July. “Semoga kita selalu saling mengasihi satu sama lain”, ”Semoga Tuhan
melindungi July dari bahaya”, ”Semoga kita mendapatkan kehidupan yang bahagia”,
dsb. Semua harapan itu telah disimbolkan dalam burung kertas yang diberikan
kepada July.
Suatu hari
Reo melipat burung kertasnya yang ke 1001. Burung itu dilipat dengan kertas
transparan sehingga kelihatan sangat berbeda dengan burung-burung kertas yang
lain. Ketika memberikan burung kertas ini, Reo berkata kepada July: “July, ini
burung kertasku yang ke 1001. Dalam burung kertas ini aku mengharapkan adanya
kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan
kita akan segera menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek
nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua!“
Saat mendengar
Reo berkata demikian, menangislah July. Ia berkata kepada Reo: “Reo, senang
sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk
tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang
tuaku!”
Saat
mendengar itu Reo pun bak disambar geledek. Ia kemudian mulai marah kepada
July. Ia mengatai July matre, orang tak berperasaan, kejam, dan sebagainya.
Akhirnya Reo meninggalkan July menangis seorang diri.
Reo mulai
terbakar semangatnya. Ia pun bertekad dalam dirinya bahwa ia harus sukses dan
hidup berhasil. Sikap July dijadikannya cambuk untuk maju dan maju. Dalam
sebulan usaha Reo menunjukkan hasilnya. Ia diangkat menjadi kepala cabang di
mana ia bekerja dan dalam setahun ia telah diangkat menjadi manajer sebuah perusahaan
yang bonafide dan tak lama kemudian ia mempunyai 50% saham dari perusahaan itu.
Sekarang tak seorangpun tak kenal Reo, ia adalah bintang kesuksesan.
Suatu hari
Reo pun berkeliling kota dengan mobil barunya. Tiba-tiba dilihatnya sepasang
suami-istri tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Suami istri itu
kelihatan lusuh dan tidak terawat. Reo pun penasaran dan mendekati suami istri
itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri itu adalah orang tua
July. Reo mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu, tetapi
hati nuraninya melarangnya sangat kuat. Reo membatalkan niatnya dan ia
membuntuti kemana perginya orang tua July.
Reo sangat
terkejut ketika didapati orang tua July memasuki sebuah makam yang dipenuhi
dengan burung kertas. Ia pun semakin terkejut ketika ia mendapati foto July
dalam makam itu. Reo pun bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam
July untuk menemui orang tua July.
Orang tua
July pun berkata kepada Reo: ”Reo, sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis
untuk biaya pengobatan July yang terkena kanker rahim ganas. July menitipkan
sebuah surat kepada kami untuk diberikan kepadamu jika kami bertemu denganmu.”
Orang tua July menyerahkan sepucuk surat kumal kepada Reo.
Reo membaca
surat itu.
—-
Reo, maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena kanker rahim ganas
yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu,
karena jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan
sentimentil yang penuh keputusasaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran.
Aku tahu semua tabiatmu Reo, karena itu aku lakukan ini.
Aku
mencintaimu Reo.
July
—-
Setelah
membaca surat itu, menangislah Reo. Ia telah berprasangka terhadap July begitu
kejamnya. Ia pun mulai merasakan betapa hati July teriris-iris ketika ia
mencemoohnya, mengatainya matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa
July kesepian seorang diri dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa
July mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia
lebih memilih untuk menganggap July sebagai orang matre tak berperasan. July
telah berkorban untuknya agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran.
Cinta
bukanlah sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan untuk orang
yang sangat berarti bagi kita.